Menyambung Hidup dengan Memberi Privat


Rabu, 12 September 2001

Sinyo Supit
Menyambung Hidup dengan Memberi Privat

“Beginilah nasib mantan atlet. Untuk menghidupi anak istri, saya bekerja seperti ini,” kata mantan petenis meja nasional Sinyo Supit. Ditemui Republikabeberapa waktu lalu, ia tengah memberikan privat latihan tenis meja, di Restoran Panglima, Kediri.
Sinyo memang tak memiliki mata pencaharian lainnya kecuali mengandalkan sisa-sisa keterampilannya menepuk-nepuk bola pingpong. Ia membagi-bagikan kepintarannya kepada orang lain demi untuk menyambung hidup dari hari ke hari.

Sinyo yang merasakan masa keemasan sebagai atlet pada kurun waktu 1977-1988 ini pun sekarang tinggal bersama empat anak dan istrinya, di rumah mertuanya di Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri.

Ia memilih tinggal di kampung, sekitar 15 km arah timur laut kota Kediri tersebut, karena pertimbangan ekonomi. Bersama istri dan anaknya, Sinyo menetap di rumah almarhum mertuanya, yang mantan kepala desa Pehkulon ini, sejak sekitar 11 bulan yang lalu. Sebelumnya mereka tinggal di Jakarta.

“Di Jakarta rumah ngontrak. Sedangkan pekerjaan saya, hanya memberi privat latihan tenis meja. Dengan pekerjaan seperti itu, apa cukup untuk menghidupi empat anak dan istri. Maka dari itu, istri saya ngajak pulang ke desa,” kata lelaki kelahiran Surabaya 1959 ini.

Untuk menopang kehidupan ekonomi sehari-hari, istrinya, Nila Ambarwati (36), yang dulu dikenal sebagai top model Kediri, saat ini merintis usaha salon dan katering. Tetapi usaha ini, menurut Sinyo, tidak bisa diandalkan.

“Di kampung orang ke salon itu jarang, demikian juga orang yang pesan makanan. Ya untuk menghidupi empat orang anak, saya kerja memberi privat latihan tenis meja ini,” ujar peraih medali perak Asian Games 1978 ini.

Kegiatan Sinyo memberi privat latihan tenis meja tersebut seminggu tiga kali, Selasa, Kamis dan Jumat, mulai pukul 16.00 sampai pukul 22.00 WIB. Latihan ini dibagi tega sesi. Sebagai pelatih, ia mendapatkan honor dari para peserta.

Ketika menjadi atlet, prestasi yang diukir Sinyo boleh dibilang istimewa. Setelah menjadi juara tunggal putra yunior pada 1974, setahun kemudian ia merebut medali emas di Yugoslavia Open.

Turun di SEA Games 1977, Sinyo menyabet medali emas di tunggal putra, ganda putra (berpasangan dengan Gunawan Sutedja), ganda campuran (dengan Diana Wuisan), dan beregu putra. Prestasi emas ini kembali dicatatnya pada SEA Games 1981 di Kuala Lumpur. Sebelumnya, di Asian Games Bangkok 1978 berpasangan dengan Gunawan ia merebut medali perak.

Bakat yang dimiliki oleh Sinyo mengalir ke anak-anaknya. Anak keduanya, Fikky Supit Santoso (10) sekarang dikontrak klub Sanjaya, Gudang Garam Kediri, selama 10 tahun.

Anaknya yang nomor tiga, Fino Supit Santoso, dan nomor empat Ficho Supit Santoso, juga berbakat bermain tenis meja. Untuk mengembangkan bakat anaknya ini, di rumahnya dipasang satu meja pingpong. juwair ()

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=44015&kat_id=105&kat_id1=&kat_id2=

Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s