Indonesia Paceklik Emas


 

Senin, 08 Desember 2003
Indonesia Paceklik Emas

HANOI– Melihat hasil yang diperoleh Vietnam, dan persaingan yang makin keras, target menjadi mustahil terwujud.

Hari ketiga SEA Games XXII Vietnam diwarnai paceklik emas di kubu Indonesia. Ahad (7/12) kontingen Indonesia hanya mengumpulkan lima medali emas, untuk naik ke posisi ketiga di klasemen sementara perolehan medali. Sedangkan Vietnam bertengger di tempat pertama dengan 41 emas.

Cabang rowing menambah dua emas dan satu perak. Medali emas dipersembahkan duet Weni Riana/ Anggelina Ohello pada kelas 2-min kelas ringan dan empat pedayung; Rodiaman, Rahmat, Agus Budi Aji dan Iswandi, di nomor sama. Sementara medali perak diraih Lasmin di nomor single scull. Satu emas lagi diperoleh dari tenis beregu.

Perburuan emas dari olahraga beladiri membuahkan sedikit hasil. Karate yang ditargetkan meraih banyak medali emas, tadi malam hanya menyumbangkan 2 emas dan 2 perak. Emas pertama diraih juara Asian Games XIV Hasan Basri di kelas 65 Kg setelah di final mengalahkan Lim Yoke Wai (Malaysia) 1-0.

Di kelas 80 kg, karateka senior M Umar Syarif menaklukkan P Jose Mari (Pilipina) 5-0, untuk menggondol perak. Medali perunggu disabet Salim Bin Abdullah (Malaysia). Di sektor putri, karateka Puspa Meonk hanya mampu mempersembahkan medali perak setelah di final menyerah kepada HA T. Kieu Trang (Vietnam) dengan skor tipis 0-1. Dengan demikian sampai kemarin tim karate Indonesia sudah mengoleksi 2 emas, 3 perak dan 6 perunggu.

Manajer tim karate Indonesia Ahmad Budu mengungkapkan sukses yang mereka capai kemarin lebih baik dari hari sebelumnya, ketika Vietnam memborong 24 medali emas. Meski demikian Budu menyesalkan kepemimpinan wasit yang melanggar sportivitas.

Dia menunjuk saat pertandingan kumite antara Christo Mondolu melawan Rainier Kisiong dari Malaysia di babak semifinal. Menurut Budu, Christo seratus persen dirampok kemenangannya. ”Saya melihat pertandingan itu dan saya menilai Christo dirugikan 100 persen oleh wasit Vietnam itu,” ujar Budu sengit.

Budu menilai wasit Vietnam memang sengaja memenangkan karateka Malaysia, karena khawatir jika karateka Vietnam bertemu Christo Mondolu di babak final, mereka bakal kalah. Vietnam sendiri akhirnya menjadi juara di kelas 80 Kg setelah atletnya Buy My mengalahkan Ki Siong di final.

Semua cara dan ‘trik’ memang dilakukan tuan rumah. Kemarin pagi, atlet Vietnam mengawali keperkasaannya dengan ‘mencuri’ emas dari nomor 30,6 km perorangan time-trial putri cabang balap sepeda. Uyun Muzizah yang semula difavoritkan, harus puas dengan medali perak. Di kelompok putranya, pada 40 km ITT itu dua pebalap Indonesia yakni Rachmat Nugraha dan Amin Suryana harus puas terpaku di posisi ke-5 dan 10.

Hari ini (8/12) akan diperebutkan total 62 medali. Atlet Indonesia akan terlibat dalam perebutan 37 medali emas. Ke-37 medali itu terdapat di cabang renang (6), loncat indah (2), atletik (11), bulutangkis (2), biliar dan snoker (2), karate (5), pencak silat (3), menembak (4), dan tenis meja (2).

Untuk memacu semangat para atlet, berbagai pengurus cabang di kontingen mulai gencar mengiming-imingi bonus. Tenis meja misalnya, menjanjikan bonus Rp 400 juta untuk setiap medali emas.

Perjalanan masih panjang. Kalimat ini kerap dilontarkan ofisial Indonesia di tengah kekecewaan akibat ‘miskin’nya perolehan medali emas hingga Ahad (7/12) malam. Tapi, pernyataan itu bisa bermakna ganda; sebagai penepis perasaan kecewa, atau bisa pula untuk lebih menumbuhkan optimisme.

Pimpinan kontingen Indonesia Djoko Pramono selalu menyatakan masih ada peluang, kendati ‘jepitan’ dari Vietnam semakin menyakitkan. Djoko tak bisa memungkiri kenyataan bahwa perolehan medali di beberapa cabang tidak memenuhi target. Melihat kemajuan Vietnam, serta persaingan keras di sejumlah venues, kecil kemungkinan sisa cabang yang masih bertanding bisa memenuhi target.

Djoko tak menyangkal peraihan 70 medali emas untuk kontingen Indonesia menjadi tidak mungkin. Namun, ia buru-buru menambahkan, bukan berarti ofisial Indonesia pesimistis. ”Kita harus terus berjuang sampai titik darah penghabisan,” tegasnya. eye

()

Republika Online : http://www.republika.co.id

Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s